Demensia adalah

  • 2 min read
  • Nov 24, 2019
Demensia adalah

Tahukah anda apa itu demensia? Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat (memori), berpikir, bertingkah laku, dan berbicara. istilah ini dipakai untuk menggambarkan sekelompok gejala yang mengganggu fungsi otak. kondisi ini kerap ditandai dengan sifat yang mudah lupa atau pikun karena memang kemampuan otak untuk mengingat telah terganngu. Dalam beberapa kasus orang yang terkena demensia cenderung sulit untuk pulih, meski begitu bukan berarti gangguan fungsi otak seperti ini tidak dapat disembuhkan. karena seorang penderita masih bisa mempertahankan fungsi otak mereka dengan memperlambat degenarasi melalui konsumsi obat-obatan.

Tetapi tidak berarti semua orang yang mengalami penurunan daya ingat dikatakan terkena demensia. Sebab kondisi ini didasarkan oleh berbagai hal yang berbeda.[1] Secara  garis besar kondisi ini dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian tersebut berdasarkan bagian otak yang bermasalah, yaitu:

  • Demensia kortikal

Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada korteks serebral, yakni lapisan luar otak. Bagian otak inilah yang berperan penting dalam fungsi memori dan bahasa (berbicara). Itu sebabnya, orang yang mengalami kondisi ini biasanya akan mengalami hilang ingatan yang cukup parah. Tak hanya itu, kemampuannya untuk mengingat kata-kata dan mengerti bahasa atau pembicaraan menjadi menurun.

  • Demensia subkortikal

Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada bagian otak yang berada di bawah korteks. Orang dengan kondisi ini biasanya menjadi lebih sering lupa dan mengalami masalah dalam proses berbicara (berbahasa). Penyakit Parkinson, serta HIV adalah beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan penyakit ini.

Resiko mengalami demensia adalah semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Namun penting untuk dipahami juga, bahwa kondisi ini sebenarnya bukan merupakan bagian dari

penuaan. Melainkan ada suatu faktor penyakit tertentu yang dapat menyebabkan seseorang mengalaminya. Terdapat beberapa jenis demensia sesuai penyakitnya, seperti:

  • Lewy body dementia

Lewy body dementia adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya endapan protein di dalam sel saraf pada otak. Akibatnya, fungsi otak untuk menghantarkan sinyal kimia ke seluruh tubuh pun terhambat.

Itulah mengapa orang yang mengalami hal ini biasanya memiliki penurunan daya ingat, dan respon yang cenderung lambat.

  • Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer ini adalah jenis demensia yang juga paling umum terjadi. Hal ini terbukti sekitar 60-80 persen dari semua kasus demensia ditempati oleh penyakit Alzheimer.

  • Demensia frontotemporal

sekelompok penyakit ini  ditandai dengan rusaknya sel-sel saraf di lobus frontal temporal otak, yang teletak di bagian depan. Bagian otak inilah yang umumnya bertugas untuk mengatur kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbicara (bahasa).

  • Demensia vaskular

Jenis gangguan fungsi otak ini disebabkan oleh berkurangnya aliran darah pada otak. Kondisi tersebut bisa disebabkan karena adanya penumpukan plak di dalam pembuluh darah arteri. Sehingga aliran darah yang seharusnya dihantarkan pada otak menjadi tersendat. Padahal normalnya, pembuluh darah tersebut seharusnya bertugas sebagai pemasok darah untuk otak. Stroke atau gangguan lainnya bisa menjadi penyebab masalah pada pembuluh darah ini.[1]

Tingkat keparahan gangguan pada fungsi otak  ini bisa beragam, mulai dari yang ringan hingga berat sekali pun. Meski dalam beberapa kasus orang yang terkena demensia cenderung sulit untuk pulih, bukan berarti gangguan fungsi otak seperti ini tidak dapat disembuhkan. karena seorang penderita masih bisa mempertahankan fungsi otak mereka dengan memperlambat degenarasi melalui konsumsi obat-obatan. Demensia adalah penyakit yang juga bisa bersifat progresif, yang artinya gangguan seperti ini dapat berkembang

semakin memburuk dari waktu ke waktu. bahkan tidak menutup kemungkinan kondisi ini akan mengubah kepribadian si penderita. Selain itu, para penderita juga akan mengalami ksulitan dalam merawat kehidupan mereka, sehingga para penderita ini membutuhkan pihak-pihak yang dapat memberikan perhatian serta dukungan.